Dukung HKSR Bagi OYPMK dan Remaja Disabilitas

Hari Rabu, 25 Mei 2022 kemarin, saya mengikuti acara talk show yang mengangkat tema seputar Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) bagi OYPMK atau Orang yang Pernah Mengalami Kusta dan Remaja Disabilitas. Saya akui, acaranya keren banget dan sangat berbobot, tetapi sayangnya durasinya hanya 1 jam saja, yakni mulai dari pukul 09.00 - 10.00.

Sebenarnya pengennya acaranya bisa lebih lama lagi, tapi mungkin memang dapat jatahnya hanya satu jam saja. Serasa informasi yang didapatkan masih terasa cukup kurang. Namun meski hanya sebentar, informasi yang saya dapatkan ini penting banget. Jadi enggak bakalan nyesel deh ikutan talk show ini.

Oh iya, talk show ini berlangsung di kanal YouTube Berita KBR. Sekadar informasi singkat, KBR atau Kantor Berita Radio ini menyajikan konten berita berbasis jurnalisme independen yang telah berdiri sejak 1999. KBR telah digunakan di lebih dari 500 radio di seluruh Nusantara dan 200 radio di Asia serta Australia.

Talk Show Dari KBR Sangat Mengedukasi

Seperti biasa, talk show dipandu oleh Rizal Wijaya dan menghadirkan narasumber sebagai berikut :

  1. Westiani Agustin - Founder Biyung Indonesia
  2. Nona Ruhel Yabloy - Project Officer HKSR, NLR Indonesia
  3. Wihelimina Ice - Remaja Champion Program HKSR

Apa Itu Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR)

"Semua orang dilahirkan merdeka, serta mempunya martabat dan hak-hak yang sama. Mereka dikaruniai akal dan hati nurani, dan hendaknya bergaul satu sama lain dalam semangat persaudaraan." - Pernyataan Umum tentang Hak-hak Asasi Manusia, 1948

Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) menjamin setiap individu untuk bisa mengambil keputusan terkait aktivitas seksual dan reproduksi mereka, tanpa adanya diskriminasi, paksaan dan juga kekerasan.

HKSR sendiri masih dianggap tabu di Indonesia. Bahkan untuk sekedar diperbincangkan saja terdengar cukup asing. Padahal, perlu disadari bahwa seksualitas dan reproduksi merupakan pengalaman bagi setiap individu, sehingga setiap individu berhak mengetahui dan memahami informasi terkait tubuh mereka.

Masih banyak yang menganggap bahwasanya remaja dianggap masih belum cukup pantas dan matang untuk mendiskusikan tentang persoalan seksualitasnya. Pandangan ini justru bertentangan dengan fakta di lapangan, di mana usia remaja memiliki risiko seksual yang sama dengan orang dewasa.

Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi bagi OYPMK dan Remaja Disabilitas

Lantas, bagaimana persoalan HKSR bagi para OYPMK atau Orang yang Pernah Mengalami Kusta dan Remaja Disabilitas?

Inilah tema utama yang diangkat di talk show tersebut, sehingga membuatnya sangat menarik untuk kita simak bersama-sama. 

Apalagi sangat jarang ada lembaga yang mengangkat isu soal HKSR bagi OYPMK dan remaja disabilitas, kecuali KBR dan NLR Indonesia yang memang sangat vokal mengangkat tema tersebut.

Setiap remaja pasti akan mengalami masa pertumbuhan atau biasa disebut pubertas, tidak terkecuali remaja dengan disabilitas. Masalah ini justru akan lebih menantang, tidak hanya bagi remaja itu sendiri, tetapi juga bagi keluarga, lingkungan, guru serta pendampingnya.

Berbicara mengenai seksualitas, HKSR merupakan hak bagi setiap orang, termasuk remaja disabilitas dan OYPMK. Hak tersebut telah diatur dalam Undang-Undang No 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas.

Talk show ini juga menjelaskan bagaimana menyiapkan remaja disabilitas dan OPYMK agar mampu menghadapi masa pubertas dengan bahagia, sehat dan bebas dari rasa takut.

Talk Show dari KBR Sangat Berbobot

Lalu seberapa penting HKSR bagi OYPMK dan remaja disabilitas? Sebagai pembuka sesi talk show, Nona memberikan penjelasan sebagai berikut :

"Kenapa ini penting? Ya, ini penting sekali, karena kadang-kadang kita berbicara soal HKSR itu selalu hal tabu. Tabu untuk dibicarakan. Dia akan tahu dengan sendirinya seiring berkembangnya usia.  Padahal, kita sudah harus mempersiapkan anak dan remaja, khususnya remaja disabilitas bahwa mereka juga punya hak untuk mengetahu, untuk melihat perubahan apa yang terjadi, misalnya menstruasi, itu tidak dibicarakan dengan anak perempuan."

Bagi OYPMK dan remaja disabilitas, tidak hanya cukup memberikan informasi serta edukasi yang tepat mengenai HKSR, melainkan juga harus membangun lingkungan yang aman dan lingkungan yang sportif.

Hal ini sangat penting untuk memacu, mendorong dan mendukung remaja disabilitas dan OYPMK agar mereka merasa nyaman dan bisa tetap survive.

Program "My Body Is Mine" dari NLR Indonesia

Untuk mendukung program Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi bagi OYPMK dan Remaja Disabilitas, NLR Indonesia mengadakan program bertajuk "My Body Is Mine" di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Program ini dilaksanakan di 4 Kota/Kab di NTT dan berlangsung dari tahun 2018 hingga tahun 2021.

Program "My Body Is Mine" dari NLR Indonesia

Wihelimina Ice, atau biasa disapa Ice merupakan salah satu narasumber sekaligus remaja disabilitas yang berasal dari Labuan Bajo, NTT ini turut menceritakan perjalanannya bagaimana ia bisa ikut terlibat menjadi bagian dari program "My Body Is Mine".

Awalnya adalah SanKita yang mendatangi desa di mana Ice tinggal. SanKita meminta data anak-anak remaja penyandang disabilitas di desa tersebut. Perangkat desa mengajukan nama Ice sebagai salah satunya. SanKita pun mendaftarkan Ice ke NLR Indonesia.

Kebetulan, saat itu NLR Indonesia memang sedang mengadakan program "My Body Is Mine" di sekolah Ice di Kec. Boleng, Labuan bajo. SMP di mana Ice sekolah merupakan sekolan inklusif yang juga menerima anak-anak disabilitas. Dan di sekolah tersebut terdapat dua orang remaja disabilitas, termasuk Ice salah satunya.

Pada 2019, Ice mulai aktif dan ikut terlibat ke dalam acara NLR Indonesia. Ia mengaku banyak sekali mendapatkan materi dari NLR Indonesia, yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya.

Ice juga mengaku jika ia sebelumnya memang tidak pernah mendapatkan informasi mengenai seksualitas dan pubertas bagi disabilitas. Hingga akhirnya muncul program dari NLR Indonesia ini.

Program Edukasi Hak Menstruasi Sehat dari Biyung Indonesia

Narasumber selanjutnya datang dari Westiani Agustin, pendiri Biyung Indonesia. Perempuan hebat yang biasa disapa Ani ini menjelaskan bahwa Biyung Indonesia berdiri sejak tahun 2018 di Jogja. Biyung sendiri merupakan sebuah aktivitas dan usaha sosial yang bergerak untuk mengangkat isu perempuan dan lingkungan.

Biyung berasal dari kata 'Ibu' dalam bahasa Jawa Kuno. Misinya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan perempuan dan melestarikan Bumi.

Program Edukasi Hak Menstruasi Sehat dari Biyung Indonesia

Biyung banyak membahas mengenai isu konservasi hingga perubahan iklim. Selain itu, Biyung juga peduli dengan hal-hal kecil yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, khususnya mengenai masalah kesehatan menstruasi pada perempuan.

Dalam perjalanan seorang perempuan, lalu muncul stigma jika perempuan adalah kontributor sampah terbesar di dunia. Salah satunya adalah sampah pembalut. Di sisi lain, perempuan memiliki kebutuhan khusus untuk reproduksinya dan hal ini tidak bisa dihindari.

Dari sinilah Biyung Indonesia mulai membuat sebuah produk yang diharapkan bisa berkontribusi untuk mengurangi sampah pembalut tersebut. 

Namun dalam prosesnya, ternyata yang bisa mengakses pembalut itu hanya sekitar 20 persen saja. Itupun yang bisa mengakses media sosial. Lalu bagaimana dengan sisanya yang 80 persen. Hal ini tentu saja menjadi hambatan dalam hal pengurangan sampah pembalut.

Selain itu, terdapat masalah lain yang lebih kritis, yaitu tentang "Period Property", di mana banyak perempuan yang tidak mendapatkan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi, salah satunya adalah hak menstruasi sehat. Dari sinilah akhirnya Biyung Indonesia membuat program untuk edukasi mengenai hak menstruasi sehat.

Ani menambahkan, agar program ini bisa berjalan dengan sukses, maka perlu memperhatikan populasi perempuan 80 persen tersebut.

"Jika kita ingin berbicara mengenai pengurangan sampah, maka kita harus menjangkau perempuan yang lebih banyak, yaitu populasi sebesar 80 persen, yang terdiri dari perempuan dari kelompok miskin dan rentan"

Berangkat dari berbagai permasalahan tersebut, Biyung Indonesia fokus untuk menjalankan dan mengembangkan program edukasi, termasuk penggalangan donasi agar bisa mengadakan pembalut gratis yang akan dibagikan kepada kelompok perempuan miskin dan rentan yang memang tidak bisa mengakses hak menstruasi sehatnya.

Konklusi

Semoga dengan adanya beberapa program yang mendukung Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi ini, bisa memberikan dorongan sekaligus semangat bagi OYPMK dan juga remaja disabilitas untuk berani speak up mengenai masalah pubertas dan juga reproduksi.

Semoga artikel ini bisa bermanfaat sekaligus memberikan sedikit pencerahan agar kita bisa juga sama-sama berkontribusi di tengah masyarakat. 

Setidaknya membantu memberikan edukasi dan informasi yang tepat agar program HKSR bagi OYPMK dan remaja disabilitas bisa berjalan dengan lancar dan sukses.

Related Posts